Buat apa panik ? -bagian #1-

21 08 2010

markspsychiatry.com

Bayangkan ! Saat  sedang bertugas  di luar kota, tiba-tiba anda mendapat kabar bahwa orang tua anda kini sedang koma di rumah sakit dikarenakan serangan jantung. Adik, kakak, dan keluarga terdekat diminta berkumpul disana. segera !.

Bayangkan lagi.   Anda seorang administrator bank. Karena beban traffic yang begitu tinggi, server switching anda  tidak sanggup lagi bekerja, sistem  hang, seluruh aliran data macet. Server yang tadinya bekerja dengan performa tinggi tiba-tiba lupa bernapas, sekarat, alias “ko-it” . Customer yang jumlahnya puluhan juta orang tidak bisa bertransaksi detik itu juga. Semua staff panik , ponsel anda berdering terus tiada henti, anda dicela dan dicaci maki oleh atasan !.

Terakhir. Anda sedang menyetir mobil pulang menuju ke rumah, tiba – tiba anda dicegat oleh sekelompok maling bersenjata lengkap. Mereka memecahkan kaca pintu samping, membentak, dan meminta seluruh harta berharga anda. “Jangan berteriak !”, hardik sang maling. Sebilah pisau ditempelkan di ujung tenggorokan !.

Baiklah. Sebelum dilanjutkan marilah sejenak kita menghirup nafas dalam-dalam… (huffppp..) 😀

Siklus kepanikan

Sekarang bayangkan jika pada semua kondisi di atas anda malah bersikap PANIK !. Bagaimana kejadiannya ?.  Mudah sekali ditebak bukan ?. Kiranya anda dan saya pasti memiliki persepsi yang sama tentang kepanikan ini. Panik memang sangat mengganggu sekali. Panik menyebabkan penderitanya mengalami kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Tidak lama setelah panik datang, penderita akan bertindak dengan terburu-buru, ia tidak lagi bisa berpikir panjang, selanjutnya jantungnya berdebar kencang, fokusnya menjadi terpecah-pecah, pada akhirnya saat kepanikan itu merasuk penuh, hidup penderita akan menjadi tidak karuan adanya. Mari kita lanjutkan ketiga peristiwa kepanikan di bagian awal tadi. Yuk.. yak… yuk….

Karena cemas, anda menuju bandara sambil terburu-buru,  tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri anda langsung menyebrangi jalan, padahal jelas terlihat lampu lalu lintas di ujung sana sudah berubah hijau. “Wuung…, Beep…., Brakkk !”, anda tertabrak mobil (sayup-sayup terdengar suara ambulans). Sekarang keadaan malah bertambah keruh dengan musibah kecelakaan yang baru sahaja anda alami.

Karena panik juga, anda berpikir: “hmm… mungkin inilah penyebabnya !”, tanpa berpikir panjang anda cabut itu switching punya kabel tanpa menghubungi ahlinya, Aliran data yang tadinya macet sekarang malah berhenti sama sekali. Wa-doh ! (sambil menepuk jidat). Keadaan menjadi tambah gawat !.

Ini bagian paling seru –  Saking cemasnya, anda malah berteriak !, “Maling………” Bogem mentah seketika mendarat di pipi sebelah kiri. Sang maling berkata : “Dasar bocah bodoh !, udah gw bilang jangan teriak, eh malah teriak sekenceng-kencengnya !, lw kagak pernah sekolah apa ?!”. Anda tergeletak pingsan tidak sadarkan diri. Sudah semua barang hilang –  mobil rusak – kini anda juga bengep seperti badut !.

“Oh tuhan… dosa apa kiranya hambamu ini ?.”.

————————————-
bersambung ke bagian #2

Iklan




Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

7 12 2009

Please go to this place:
http://www.harunyahya.com/indo/artikel/094.htm








%d blogger menyukai ini: