Tanpa harus manjat dan main galah

28 04 2011

Ini pohon belimbing tetangga sebelah rumah, kata pemiliknya kalau berbuah langsung ambil saja. Duh enaknya…





Badminton

14 04 2011

“Service over, Twenty VS seven, Brain Serve”
Demikian kata pak wasit dari atas kursinya.

Kini saya dan teman-teman di kantor lama mulai rutin badminton sekali dalam sepekan. Olahraga menjadi kebutuhan primer bagi para coder yang kebanyakan waktunya dihabiskan dengan duduk dan menarikan jemari di atas keyboard. Setelah puas mengolah algoritma, olahraga adalah tempat paling cocok untuk dijadikan agenda berikutnya. Disamping menghibur juga membuat <body> jadi sehat.

Tiap olahraga punya filosofi masing-masing, namun hampir setiap olahraga berkelompok pasti mengajarkan  konsep “kerjasama dalam tim”. Pada badminton, agar lawan di seberang net dapat dikalahkan dengan baik – pasangan double harus saling percaya dan profesional terhadap rekan satu timnya .

Ini waktu kita main di beijing lawan denmark. he he

Seorang player tidak boleh merasa kecewa bila pukulan rekan satu timnya gagal mendarat di daerah lawan, tidak banyak bicara dan langsung mengkoreksi kesalahan pada pukulan atau set berikutnya, satu sama lain saling percaya bahwa sang rekan pasti melakukan yang terbaik. Dalam hatin ia berkata : “Kita orang pasti menang!”.

Keringat deras mengucur, lompatan, smash, dukungan dari penonton, semuanya mix jadi satu. Sensasi yang tidak akan didapat bila hanya dilampiaskan lewat main game di depan komputer :D.

Game point, You win !





Layar kerja April 2011

7 04 2011

Ubuntu 10.10 (Maverick Meerkat) + Rainlendar Lite





Buat apa panik ? -bagian #1-

21 08 2010

markspsychiatry.com

Bayangkan ! Saat  sedang bertugas  di luar kota, tiba-tiba anda mendapat kabar bahwa orang tua anda kini sedang koma di rumah sakit dikarenakan serangan jantung. Adik, kakak, dan keluarga terdekat diminta berkumpul disana. segera !.

Bayangkan lagi.   Anda seorang administrator bank. Karena beban traffic yang begitu tinggi, server switching anda  tidak sanggup lagi bekerja, sistem  hang, seluruh aliran data macet. Server yang tadinya bekerja dengan performa tinggi tiba-tiba lupa bernapas, sekarat, alias “ko-it” . Customer yang jumlahnya puluhan juta orang tidak bisa bertransaksi detik itu juga. Semua staff panik , ponsel anda berdering terus tiada henti, anda dicela dan dicaci maki oleh atasan !.

Terakhir. Anda sedang menyetir mobil pulang menuju ke rumah, tiba – tiba anda dicegat oleh sekelompok maling bersenjata lengkap. Mereka memecahkan kaca pintu samping, membentak, dan meminta seluruh harta berharga anda. “Jangan berteriak !”, hardik sang maling. Sebilah pisau ditempelkan di ujung tenggorokan !.

Baiklah. Sebelum dilanjutkan marilah sejenak kita menghirup nafas dalam-dalam… (huffppp..) 😀

Siklus kepanikan

Sekarang bayangkan jika pada semua kondisi di atas anda malah bersikap PANIK !. Bagaimana kejadiannya ?.  Mudah sekali ditebak bukan ?. Kiranya anda dan saya pasti memiliki persepsi yang sama tentang kepanikan ini. Panik memang sangat mengganggu sekali. Panik menyebabkan penderitanya mengalami kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Tidak lama setelah panik datang, penderita akan bertindak dengan terburu-buru, ia tidak lagi bisa berpikir panjang, selanjutnya jantungnya berdebar kencang, fokusnya menjadi terpecah-pecah, pada akhirnya saat kepanikan itu merasuk penuh, hidup penderita akan menjadi tidak karuan adanya. Mari kita lanjutkan ketiga peristiwa kepanikan di bagian awal tadi. Yuk.. yak… yuk….

Karena cemas, anda menuju bandara sambil terburu-buru,  tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri anda langsung menyebrangi jalan, padahal jelas terlihat lampu lalu lintas di ujung sana sudah berubah hijau. “Wuung…, Beep…., Brakkk !”, anda tertabrak mobil (sayup-sayup terdengar suara ambulans). Sekarang keadaan malah bertambah keruh dengan musibah kecelakaan yang baru sahaja anda alami.

Karena panik juga, anda berpikir: “hmm… mungkin inilah penyebabnya !”, tanpa berpikir panjang anda cabut itu switching punya kabel tanpa menghubungi ahlinya, Aliran data yang tadinya macet sekarang malah berhenti sama sekali. Wa-doh ! (sambil menepuk jidat). Keadaan menjadi tambah gawat !.

Ini bagian paling seru –  Saking cemasnya, anda malah berteriak !, “Maling………” Bogem mentah seketika mendarat di pipi sebelah kiri. Sang maling berkata : “Dasar bocah bodoh !, udah gw bilang jangan teriak, eh malah teriak sekenceng-kencengnya !, lw kagak pernah sekolah apa ?!”. Anda tergeletak pingsan tidak sadarkan diri. Sudah semua barang hilang –  mobil rusak – kini anda juga bengep seperti badut !.

“Oh tuhan… dosa apa kiranya hambamu ini ?.”.

————————————-
bersambung ke bagian #2








%d blogger menyukai ini: