Polisi Indonesia Gagap Teknologi !

18 09 2008

7 Agustus 2008, Circle K Pejaten Raya

Salam Tempel

Salam Tempel

(Selepas Magrib, dua orang web developer turun dari sebuah tangga kantor di atas Circle K Pejaten Raya sambil tertawa riuh di tengah mega merah langit yg baru saja menghilang)

Dua orang developer itu bernama Indie dan Gibran.
Setibanya di tempat parkir, seperti biasa indie mengeluarkan kunci untuk membuka kunci pengaman dan stang motornya. Tawa riuh itu redup seketika.

“Lah !, Motor gw mana !!!!” (tampak wajahnya panik dan nampak sangat gusar). Siang tadi motor itu masih terparkir persis di sebelah motor saya. Lalu dengan cool saya naik kembali ke kantor, dan mengumumkan bahwa motor indie telah hilang. Orang sekantor merasa tidak percaya, karena sedikit sekali raut panik di wajah saya. Kemudian indie ikut naik, dan meyakinkan bahwa motornya memang telah hilang.

Seketika Semua orang kantor pergi keluar, dan seperti laiknya akhir kehilangan motor di Indonesia, kita tidak bisa berharap apa-apa. Karena para pencuri di negeri ini sudah terlampau canggih modusnya atau mungkin teknologi kepolisan kita yang terlampau parah !. Indie hanya bisa terdiam terpaku dan masih tenggelam dalam kepanikan. Jelas saja, uang motor hilang itu dikumpulkannya dari gaji bulanannya. Anda tentu dapat membayangkan kesedihannya. Ternyata salah satu motor pegawai circle pun sudah dikerjai oleh si Maling. Namun belum sempat di bawa kabur. “Sabar ndi gw juga pernah hilang motor kok, 2 kali malah”, saya coba menenangkan.

Bermodalkan google, kami mencoba menelpon Polisi Sektor (POLSEK) terdekat. Aha ketemu !. lalu teman- teman kantor mencoba menelfon beberapa nomer. Hasilnya nihil, Hanya terdengar nada sambung tanpa kata-kata, Ah makin jelek saja image polisi dalam benak saya. Akhirnya kami bertanya pada tukang parkir, tukang parkir langsung menunjukan lokasi polsek terdekat, Ah.., Terkadang Tukang Parkir lebih canggih dari Google. Lalu secepat kilat kami menuju polsek yang letaknya di depan pasar minggu, sebuah pasar tradisional yang sangat menyedihkan keadaannya, karena lahan pasar ini dihajar oleh Mall Robinson.

Integrated Criminal Justice

Integrated Criminal Justice

Terus terang saya paling MUAK berurusan dengan sifat polisi, terutama polisi lalu lintas. Akhirnya kami melapor ke pos penjagaan. Setelah menunggu hampir 30 menit, kami lalu dihadapkan pada seorang Bintara, ia lalu mewancarai kami berdua. Identitas pribadi dan kunci motor kawan saya diminta diserahkan kepadanya. Saya mengira ia akan segera memakai sebuah sistem informasi kepolisisan secanggih di USA atau Negara-negara Eropa. Dasar memang Indonesia, ia malah membuka MS Word, lalu mengetik sesuatu yg menurut saya sangat “sampah” saat itu. Karena bukankah seharusnya ia berusaha menemukan motor sang korban dengan teknik dan sumber daya yang ia punya secepat mungkin ? (anda pasti tertawa). Ujian kesabaran belum berakhir, setelah selesai berurusan dengan juru ketik kami diminta ke lantai dua menemui seorang polisi berpangkat Briptu. Indie kemudian diwawancarai dengan pertanyaan yang sama oleh juru ketik di lantai satu, ia ingin membuat berita acara kehilangan.

Saya menunggu sangat lama sekali saat itu, Fisik dan roh saya sudah tidak betah berada di tempat ini. Indie sangat kesal karena identitasnya kembali ditanya untuk kesekian kalinya. Kesalnya melebihi proses pengisian biodata registrasi di situs-situs internet yang menyuruh visitornya untuk mengisi banyak field.

Satu bulan kemudian (Ramadhan 1429 Hijriyah)

“Bran, Lw sama Toni ikut gw jadi saksi yuk ke polsek lagi buat berita acara orang asuransi”, indie mengajak saya dan sultoni yang masih sangat kental logat tegal nya. Lalu pergilah kami ke Polsek dengan teknologi jahiliyah itu. Setibanya di tempat dimana para penjahat kelas teri berkumpul, seperti biasa birokrasi berbelit kembali kami temui. Akhirnya kami dipersilahkan masuk ke dalam ruang Briptu Budi dan teman-temannya. Oke, agar lebih menarik, saya tuliskan model dialog saja ya. Dialog saya, Briptu Budi dan dua orang kawannya merupakan klimaks dari artikel ini. ini dia :

———————–
Briptu Budi : Budi
(Rambut Gondrong, perawakan agak besar, wataknya jauh seperti budi yg sering diceritakan di buku-buku sekolah dasar)

Gbr : Gibransyah

———————–

Budi : “Ngapain kamu kesini ?”, sahut Briptu Budi (ia berusaha mengerjai saya).

Gbr : Lalu saya balas menyahut, “Loh bukannya saya tadi dipanggil ke ruangan ini pak ?”

Budi : Tertawa sinis, ya udah duduk !

(Nada bicaranya sangat merendahkan lawan bicaranya, saya membatin, inikah polisi yang sering diceritakan orang itu ?)

Budi : “Nama ?”, jari-jarinya telah tergeletak di keyboard, ia sudah siap mengetik dengan gaya sebelas jari.

Gbr : “Gibransyah pak”, jawab saya tegas, saya berusaha mengimbangi. Gertakan-gertakan sampah ini sudah basi pada diri saya.

Budi : “Hmm.., dimana kamu saat kejadian ?”,

Bla..bla..bla…, saya terapkan metode bertahan saja pada kondisi seperti ini. Sekitar lima belas menit terus dikerjain. Tiba-tiba salah satu temannya bertanya.

Teman Budi : “Kamu kuliah dimana bran ?” (Dengan nada bersahabat).

Gbr : IPB pak.

Teman Budi : Wah…, Pertanian dong.., Jurusan ?
(saya sudah menebak, pasti dan pasti pertanyaan klasik tentant ILKOM IPB pasti terlontar lagi)

Gibran : Ilmu Komputer pak.

Teman Budi : Wah, Emang di IPB ada Ilmu Komputer ?
(Tuh kan bener…., Arghhhh…..)

Gibran : Ada dong pak…, Jurusannya di bawah Fakulas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Anak Bapak sekolahin di situ deh, pasti pinter. Sahut saya dengan penuh percaya diri.

Teman Budi : “Oh begitu ya” (sambil mengangguk-angguk dan sangat simpatik), hmm.. berarti kamu ngerti komputer dong yah. Bran, memang transfer uang bisa via SMS yah ?

Gibran : Ya bisa sekali pak. sekarang kan sudah ada SMS Banking.
Teman Budi : “Gini bran, kemarin itu saya terima pengaduan dari ibu-ibu yang kehilangan uang 40 juta di ATM”, coba kamu jelaskan bran, bukan apa-apa, saya kan bingung juga mau berbuat apa bila saya gak tahu cara mengatasinya.

Gibran : Dalem hati (makin sedih saja saya melihat kepolisian indonesia), jadi begini pak… Sekarang itu sudah lazim modus pencurian dengan metode ATM dan SMS Banking. Mulailah saya bercerita tentang bagaimana cara kerja modus seperti itu. bla..bla..bla… cas…cis…cus…
(Satu isi ruangan polisi menyimak cerita saya dengan khusyu)

Setelah menyelesaikan cerita singkat itu, mereka kembali mengangguk-angguk, entah mengapa akhirnya proses interogasi saya diselesaikan saat itu.

Teman Budi 2 : “Bran ini ada virus cacing di komputer saya nih, setiap saya buka MS Word timbul banyak file yang ada cacingnya. (Maksud ia karakter ~, yang muncul pada file hidden temporary saat MS Word dijalankan)

Gibran : “Wah santai aja, itu mah normal pak. Yang patut dikhawatirkan adalah proses kopi dan paste dari media seperti flashdisk ke dalam komputer kita. Nah bila flashdisk sudah terinfeksi virus, maka kemungkinan besar file dalam komputer bapak akan dihancurkan oleh si Virus”. Tinggal pasang antivirus saja pak, terus update secara berkala.

Teman Budi 2 : “Wah gawat banget ya”.

Budi : “Oke bran, sudah selesai, saya kemudian berpamitan”, dan setiap orang di ruangan tersebut menyalami saya satu persatu.

Teman Budi 1 : “Nanti kamu tolong pasangin antivirus itu bran yah”

Gibran : “Inshallah pak, bila saya ada waktu saya akan kembali lagi kesini”. (terbersit juga niat untuk mengajari mereka dasar-dasar ilmu komputer menggunakan linux).

Nah demikian saudara-saudara pengalaman saya, hikmah kisah diatas adalah : janganlah pernah menanggapi suatu keburukan dengan keburukan pula. Berikanlah energi positif kepada lawan bicara kita, maka anda akan mendapatkan sesuatu yang positif pula.

Segala sesuatu yang anda pancarkan lewat pikiran, perasaan, citraan mental, dan tutur kata Anda akan didatangkan kembali ke dalam kehidupan anda, (Catherine Ponder, Dynamic Law of Prosperity)

Bagi para pemain proyek-proyek gigantic, cobalah sesekali pasar seperti ini ikut disentuh juga. Kasihan kan melihat mereka harus menggacul terus di pinggir jalan setiap hari untuk tambahan uang keluarganya.

Inilah Indonesia. Negeri tempat kita semua dibesarkan dengan hasil Bumi dan Laut yang melimpah ruah, yang tidak habis walau pernah dikeruk selama 350 tahun lebih oleh penjajah. Negeri terpuruk, negeri yang harus tetap kita cintai dan bangun hingga akhir hayat.


Aksi

Information

8 responses

20 09 2008
randu™

parah bener!!!

29 09 2008
Andri Nugroho

Nyampah lagi ah,..

Wah ilang motor yak Bran, duh kasian tuh tmen nt Bran,..
Salam ja ya buat si Indie, bersabarlah moga motornya ditemukan lagi, atau setidaknya mendapat balasan setimpal, amiin.
Kok ceritanya ada bersambung sih Bran? mang nt mo ikut lomba Film Indie ya. he he.

20 10 2008
[H]

Wah baru mampir neh,,

Pake senjata ampuh a,,biasanya polisi paling takut sama yg begituan,,

Duit 100rebuan 5 lembar ^_^v

22 10 2008
dJak

lah,,, diatasnya circle K pejaten ntuh kantor IT Konsultan yah,,, baru tahu gw

padahal sering ke situ, kadang diajakin temen beli cimeng didepan circle K🙂

26 10 2008
zona90

#Herman
Hola man, Cara seperti itu tidak mendidik man.

#Djak
Wah bos, bertaubatlah bos. Kiamat sudah di depan mata.

3 11 2008
tuxer

cerita yang menarik🙂

17 11 2008
Haikal

Itu baru polisi asli indonesia bran, kalo yang serba canggih bukan disini (Indonesia) tempatnya… ini salah satu potret buram bangsa kita gaptek..

tapi ini memang realita khidupan, dan kita harus berusaha untuk ‘mengubahnya’

Salam Perubahan, tetapi tidak semua perubahan itu baik…

27 10 2009
Echa

Untung polisi yg saya kenal ga gaptek hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: