Jangan dijawab: “Tinggal Googling aja kok!”

8 07 2009

Alkisah, jaman kuliah di Bogor, seorang temen cewe pernah nanya ttg masalah programming. Gw tau bener waktu itu doi udah berusaha keras untuk bisa menyelesaikan problemnya seorang diri, tapi mungkin karena waktu itu doi lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logikanya jadi belum bisa terselesaikan. :D (mungkin ini juga sebab mengapa jumlah programmer perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki). 

bimbing.jpg657378-1Gw coba jelaskan tahap demi tahap. Trus diakhir penjelasan doi bilang “Ya ntar gibran ajarin lagi ya”. Trus gw jawab “Ya kan bisa belajar sendiri, otodidak aja”, dengan nada agak tegas gitu, maksudnya biar doi lebih keras lagi belajar programmingnya. Trus doi bilang gini “Tapi kan tetap butuh ada yg mbimbing”, sambil memancarkan rona wajah sedih, penuh harap, sekaligus kecewa sama gw. Dalem banget dach pokoknya, sampe nyesel gw bilang kata-kata itu. Berhubung kejadian itu masih keinget terus sampe sekarang, gw merasa perlu untuk nulis postingan ini agar tidak terulang kepada para pembaca sekalian. Baca entri selengkapnya »





Motor Ceper, Keren apa Odon ?

12 06 2009

Sebenernya apa sih yang dicari dari orang-orang yangngeceperin motornya ?
Badan cape, kaki pegel, tiap ada polisi tidur atau gundukan tinggi motor harus diturunin trus agak diangkat biar body bawah gak kepentok. Motor yang harusnya difungsikan untuk memudahkan malah jadi nyusahin hidup. 

Saat motornya normal pulang ke rumah bisa 10 menit, sekarang udah 10 menit lebih, tambah lagi dengan takut kepentok, takut penyok, takut kegores. Sengaja biar keren ?, buat gaya ?, atau buat apa ya ?. Inyong hadu Bingung, rela mengeluarkan uang banyak-banyak hanya untuk menyusahkan diri sendiri.  





Insyallah ya Cuy!

27 05 2009

Kisah pertama
Fulan 1: “Jadi besok bisa kan mas dateng ke kantor?”
Fulan 2: “Oke saya pasti datang jam 10 pagi besok”.

Kisah Kedua
Giant: “Jadi besok kita bisa kan ketemuan di lapangan jam 4 sore ?”
Suneo: “Ya Insyallah deh giant”, sambil lemes.

Percakapan diatas satu dua kali pasti pernah ketemu dalam perjalanan hidup kita. Di abad Doraemon ini ucapan insyallah telah berubah makna menjadi sebuah pengingkaran atau bisa juga fifty-fifty (antara jadi atau tidak) terhadap penepatan janji. Terlebih bila kata insyallah diucapkan dengan nada tidak yakin, seperti : “Ya insyallah deh”, sambil lemesnya atau “Insyallah ya cuy, kalo gw besok gak ada acara”, sambil ketawa. Paling lucu “Lw Insyallahnya insyallah Arab apa Insyallah Bogor nih ?”. Sudah menjadi anggapan lumrah bahwa orang-orang yang berkata insyallah sudah pasti “kagak beres” janjinya. Insyallah sudah menjadi permainan.

Paling parah adalah berjanji tanpa mengucapkan insyallah, seolah-olah janji itu  pasti terwujud murni dengan kehendak kita. Kita lupa bahwa ada Allah sang maha pengatur skenario kehidupan. Ya persis seperti dialog pertama di atas.

Padahal Allah pernah memusnahkan kebun sekelompok musyrikin Mekkah karena telah bersumpah bahwa mereka akan memetik hasil panen di keesokan harinya sedang mereka lupa mengucapkan InsyaAllah, mereka juga tidak mengizinkan para kaum miskin untuk masuk ke dalam kebun yang akan di panen tersebut. (Al-Qalam 17-33)

Mari istigfar karena telah mempermainkan kata2 insyallah.
Mari istigfar atas janji yang telah diucapkan tanpa Insyallah dan belum ditepati.

Astagfirullah hal adzim….